Yayasan Cakra Donya Atjeh Peringati Haul ke-16 Hasan Muhammad Di Tiro

Banda Aceh5 Dilihat

Banda Aceh – Ketua Yayasan Cakra Donya Atjeh (CDA), Mujahiddin, S.H., M.Si, bersama segenap pengurus yayasan memanjatkan doa dan penghormatan kepada deklarator Aceh, pejuang bangsa, serta tokoh yang menjadi panutan masyarakat Aceh, Dr. Teungku Hasan Muhammad Di Tiro, dalam rangka peringatan haul ke-16 yang berlangsung pada Rabu, 3 Juni 2026.

 

Mujahiddin menyampaikan bahwa almarhum Hasan Muhammad Di Tiro merupakan sosok pejuang sejati yang berhasil membangkitkan kesadaran serta semangat perjuangan rakyat Aceh dalam mempertahankan harkat, martabat, dan identitas bangsanya.

 

“Beliau adalah ikon perjuangan Aceh. Sudah sepatutnya peringatan haul ini diperingati secara khidmat sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa beliau kepada bangsa Aceh,” ujar Mujahiddin.

 

Menurutnya, peringatan haul Hasan Muhammad Di Tiro hendaknya menjadi sarana refleksi bagi generasi muda Aceh untuk memahami sejarah perjuangan daerah serta memperkuat komitmen dalam menjaga perdamaian, persatuan, dan keberlanjutan pembangunan di Tanah Rencong.

 

“Perjuangan Aceh telah melalui perjalanan panjang yang penuh pengorbanan dan darah para syuhada. Generasi yang hari ini menikmati hasil perjuangan tersebut memiliki tanggung jawab untuk menghargai, menjaga, dan melanjutkan cita-cita para pendahulu,” katanya.

 

Ia menambahkan, banyak nilai perjuangan dan keteladanan almarhum yang patut dijadikan pelajaran bagi masyarakat Aceh. Jasa dan pengabdian Hasan Muhammad Di Tiro akan selalu dikenang dalam sejarah dan hati masyarakat Aceh.

 

Saat ini, posisi Wali Nanggroe Aceh telah dilanjutkan oleh Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haytar. Sebagai pemangku lembaga adat dan simbol pemersatu masyarakat Aceh, masih terdapat berbagai persoalan yang memerlukan perhatian bersama, termasuk implementasi sejumlah poin dalam Nota Kesepahaman (MoU) Helsinki yang dinilai belum sepenuhnya terlaksana.

 

Menurut Mujahiddin, diperlukan kerja sama dan sinergi dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari kalangan akademisi, tokoh masyarakat, yayasan, lembaga, hingga pemerintah untuk memastikan setiap butir kesepakatan yang telah disepakati dapat berjalan secara optimal demi kemajuan Aceh.

 

Mujahiddin yang juga pernah menjabat sebagai Pelaksana Tugas Khatibul Wali berharap peringatan haul ini dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda dalam meneladani semangat perjuangan Hasan Muhammad Di Tiro.

 

“Semangat perjuangan beliau harus mampu membangkitkan optimisme generasi Aceh untuk membangun perekonomian daerah, membuka lapangan pekerjaan, serta mewujudkan Aceh yang mandiri di berbagai sektor. Tujuan akhirnya adalah menghadirkan kesejahteraan, keamanan, kedamaian, dan ketenteraman bagi seluruh masyarakat,” ujarnya.

 

Sementara itu, Pembina Yayasan Cakra Donya Atjeh, Abdullah Hasbunallah, S.Ag., M.SM, menyatakan bahwa pihaknya terus melakukan berbagai konsultasi dan komunikasi dengan sejumlah pihak terkait program-program strategis yang berorientasi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) Aceh.

 

Menurutnya, penguatan SDM menjadi salah satu faktor penting dalam menarik investasi, baik dari dalam negeri, luar negeri, maupun sektor swasta. Oleh karena itu, Yayasan CDA akan terus membangun kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan guna mewujudkan Aceh yang sejahtera dan bermartabat.

 

Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Jenderal Yayasan Cakra Donya Atjeh, Irwan Syahputra (Syech Wan), menegaskan bahwa jasa perjuangan almarhum Paduka Yang Mulia Wali Nanggroe Aceh, Dr. Teungku Hasan Muhammad Di Tiro, akan selalu dikenang oleh masyarakat Aceh.

 

Menurutnya, berbagai capaian yang dirasakan masyarakat Aceh saat ini, termasuk kekhususan dan otonomi khusus Aceh, merupakan bagian dari hasil perjuangan panjang yang telah dirintis oleh Hasan Muhammad Di Tiro.

 

“Semoga berbagai hasil perjuangan tersebut dapat terus menjadi fondasi bagi terwujudnya kemakmuran, kesejahteraan, dan kehidupan yang damai bagi masyarakat Aceh,” katanya.

 

Irwan juga menilai bahwa upaya memajukan Aceh tidak dapat sepenuhnya bergantung pada anggaran pemerintah semata. Diperlukan penguatan hubungan dan kerja sama dengan berbagai pihak di tingkat internasional guna menarik investor untuk berinvestasi di Aceh.

 

Menurutnya, Aceh memiliki potensi sumber daya alam yang besar dan memiliki sejarah panjang sebagai pusat perdagangan internasional. Potensi tersebut perlu dihidupkan kembali melalui kebijakan yang mendukung iklim investasi yang sehat, disertai dukungan dari seluruh elemen masyarakat dan pemerintah.

 

“Dengan kolaborasi yang baik antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, lembaga, dan masyarakat, Aceh memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi daerah yang maju, mandiri, dan berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *